Kupu-Kupu

Tidak ada komentar

Kupu-Kupu | JESHOOTS(pexels.com)

Aku menemukan sebuah kepompong yang menempel di dahan ranting di sekitar kebun nenekku. Di bawah kepompong itu ada kepala gak tahu apa yang menjulur keluar, bergoyang-goyang. Apa itu? geli banget lihatnya. Kepala itu bergoyang-goyang terus seperti memaksa ingin keluar, kadang goyangannya mengikuti gerakan angin, kadang juga bergoyang tak berarah, kemanapun. Setelah lama memperhatikan, oh mungkin benar itu kepompom yang mau keluar jadi kupu-kupu?. Aku memanggil adikku setelah beberapa detik menyadari mungkin akan ada makhluk bersayap indah keluar dari sana.

Adikku mendekat, tapi sama seperti reaksi awal waktu aku melihatnya. Dia pun jijik dan tangannya malah langsung menyambar ranting yang jatuh dari pohon. Sedetik kemudian kepompong itu lepas dari ranting tempat dia hinggap. “Heh lu ngapain?” jelas aku terkejut melihat kepompong itu malah terjatuh sia-sia, aku kan ingin melihat sayapnya. Kulihat adikku dan dia malah ‘nyengir’ seperti orang tanpa salah. Jijik katanya. Ngapain juga lihat yang begituan. Anak itu malah pergi begitu saja setelah menghancurkan suatu kehidupan. Tak tahu malu memang. 

Aku tersadar ternyata makhluk hidup bisa dengan mudah mati gitu aja. Karena kamu tahu? kepompong itu jatuh membentur tanah dan kayak pecah, cairan warna hijau keluar dari sana. Bukan karena cuma ini adalah makhluk hidup, tapi juga makhluk hidup yang kehilangan mimpinya. Bayangkan saja, ada berapa kali proses seekor ulat berubah jadi kupu-kupu? Dia harus rela menerima kondisinya yang menjijikan dan dijauhi oleh banyak makhluk karena dia hama yang harus diberantas. Setelah itu, dia harus rela dikurung di sebuah tempat yang gelap dan sendirian selama sekitar 7-12 hari sebelum akhirnya kamu diakui sebagai makhluk yang cantik pembawa nektar. Menjadi koleksi di sana-sini, di foto, diabadikan sebagai suatu keindahan alam yang hakiki. Panjang sekali prosesnya, menyakitkan, dan penuh cobaan. Mengagumkan sekali ulat ini. Sepanjang itu prosesnya, tapi kemudian muncul seorang anak dari antah berantah yang menghancurkan mimpinya untuk jadi makhluk dikagumi. Kalau aku yang menjadi kupu-kupu itu, mungkin aku akan berteriak “Asu!” saat wadah dan tubuhku melayang jatuh ke tanah. Menyebalkan. Dasar makhluk sialan.

Tapi, memikirkan kembali si kupu-kupu ini aku jadi teringat tentang diriku. Apa sekarang aku adalah seekor ulat yang dijauhi banyak orang ya? Aku teringat banyaknya penolakan yang terjadi pada diriku. Aku gagal mengikuti proses ujian masuk Universitas, sudah empat kali aku mencobanya dan semuanya gagal. Sudah berapa banyak juga penolakan yang aku dapatkan dari tempat kerja yang aku beri dengan cuma-cuma CV dan pengalamanku. Ya, benar percuma kan. Aku yang membuang waktuku untuk melakukannya tapi malah diabaikan begitu saja. Background gak sesuai lah, pendidikan gak sesuai, alamat gak sesuai, nanti langsung saja bilang kamu gak sesuai untuk masuk dimanapun. Siapa juga yang mau menerima si ulat?. Terus apa aku juga harus menyendiri dan dikurung untuk menjadi kupu-kupu?. Aku tak pernah masalah untuk menjadi sendiri, itu bukan sesuatu hal yang besar yang perlu aku permasalahkan. Aku hanya terjebak di kepompongku dan gak tahu gimana caranya keluar. Oh tolonglah beritahu aku bagaimana caranya menjadi kupu-kupu?


Komentar